1. Sejarah Singkat Budaya Lontara
Aksara Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar di Sulawesi Selatan. Kata "Lontara" berasal dari Bahasa Bugis lontar (daun siwalan), karena naskah kuno epik kebanggaan dunia I La Galigo ditulis di atas daun lontar menggunakan alat tajam.
2. Filosofi Sulapa Eppa (Belah Ketupat)
Bentuk tarikan garis Aksara Lontara terinspirasi dari belah ketupat yang disebut Sulapa Eppa. Ini melambangkan falsafah klasik masyarakat Bugis-Makassar tentang 4 elemen penyusun semesta: Tanah, Air, Api, dan Angin.
3. Karakteristik "Defective Script" (Skrip Cacat)
Keunikan (dan kesulitan) utama Lontara adalah sifatnya yang defective. Lontara **tidak memiliki tanda mati (pangkon)**. Oleh karena itu, konsonan yang berada di akhir suku kata tidak ditulis sama sekali. Akibatnya, satu kata tulisan Lontara bisa memiliki banyak arti (ambigu). Pembaca dituntut memiliki kebijaksanaan dan pemahaman tata bahasa untuk menebak makna (paseng) berdasarkan konteks.